Sabtu, 22 Januari 2011

liburan

pada liburan sekolahku liburannya emang asik , tetapi ada juga yang biasa-biasa saja
liburannya cumen di rumah saja kagak kemana-mana males nak jalan-jalan
cumen dirumah gk ada gawe nonton seharian tidur puas-puas online seharian
nilai : semeseter pertama Jelek dan akan aku bayar dengan nilai semester 2
kegiatan ketika liburan kagak ada cumen di rumah : Mandi , makan , nonton , maen sama temen-temen ,
sudah itu bae -,  . . . . Dak KateK gaweee... ☺☺

Senin, 22 November 2010

Idul Adha kembali hadir di tengah-tengah kita. Idul Adha memiliki hikmah dan makna yang amat penting untuk ditangkap dalam perspektif ajaran agama yang substansial. Idul Adha merupakan ritual keagamaan yang sarat nuansa simbolik-metaforis yang perlu dimaknai secara kontekstual dalam pijakan nilai-nilai universal Islam.
Saat ini kita masih berada dalam rangkaian hari-hari Tasyrik. Pada hari ini kita masih berkesempatan menyembelih hewan kurban, mengumandangkan takbir, dan dilarang menjalankan shaum. Dengan kata lain, nuansa Idul Adha masih kental menyelimuti keseharian kita. Semoga, di balik itu semua, ada satu hal penting yang harus kita internalisasikan dalam diri. Yaitu, bagaimana nuansa Idul Adha yang hanya lima hari ini (9 sampai 13 Dzulhijjah) bisa menjiwai nuansa keseharian kita? Untuk menjawab hal ini, kita bisa menelaah kembali hikmah dari Idul Adha ini.
Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari momentum Idul Adha ini. Dari sekian banyak hikmah tersebut, berikut beberapa makna tersirat dari momentum Idul Adha yang merupakan hasil perenungan penulis sendiri :
  1. Ketika menyaksikan penyembelihan hewan qurban, ada satu pelajaran penting untuk kita renungkan. Ketika hewan qurban disembelih berarti menyembelih pula sifat-sifat kebinatangan yang ada padanya. Di sinilah hikmah penting bagi kita, di mana kita pun harus segera menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri kita. Banyak manusia yang telah jatuh derajatnya menjadi ”binatang”, sebab sifat-sifat bahimiyyah (kebinatangan) telah melingkupi perangai dan perllakunya. Sebagai makhluk yang terhormat tentu kita tidak ingin derajat kita jatuh menjadi binatang. Untuk itu sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri kita, seperti sifat rakus, serakah, pelit, mau menang sendiri, sombong dan lain sebagainya harus segera kita ”sembelih” dari diri kita. Inilah salah satu makna tersirat dari ibadah qurban yang jarang kita pahami.
  2. Ketika menyaksikan penyembelihan hewan qurban, kita juga menyaksikan bagaimana darah hewan qurban kita membasahi bumi ini. Di sana ada satu hikmah besar yang bisa jadikan pelajaran. Bila saat ini yang kita kurbankan untuk Allah adalah darah hewan qurban kita,  suatu saat jika dibutuhkan kan kita juga harus siap mengorbankan darah dan jiwa kita untuk Allah SWT. Inilah bentuk pengorbanan terbesar yang harus berani kita tunjukkan kepada Allah sebagai bukti keimanan kita, sebagaimana yang telah didemonstrasikan pula oleh Nabiyullah Ibrahim dan keluarganya. Allah pada hakikatnya tidak membutuhkan apa-apa, termasuk persembahan. Perintah itu hanya untuk menguji ketaatan manusia dalam merespons pesan dan perintah Ilahi dan kesediaannya untuk tidak dikungkung kediriannya yang subyektif, atau impuls-impuls kejahatan yang menipu. Persembahan sekadar suatu simbol yang melambangkan makna yang lebih substansial, yaitu ungkapan ketaatan untuk mengembangkan nilai-nilai agama yang sejatinya selalu bersesuaian dengan nilai kemanusiaan perenial.
  3. Salah satu hikmah mengapa Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba adalah bahwa Allah tidak mau manusia dijadikan kurban. Allah menjadikan hewan sebagai kurban. Ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang sangat mulia disisi-Nya. Maka sungguh aneh kalau di zaman sekarang ada orang yang dengan mudahnya mengorbankan sesama manusia demi mengejar kepentingan pribadinya. Dan tersirat pula pesan yang ingin memaklumkan manusia agar tidak lagi menginjak-injak manusia lain dan harkat kemanusiaannya. Secara historis pun ada pelajaran penting yang bisa kita renungkan. Pada masa Nabi Ibrahim hidup, sekitar 4300 tahun lalu, menjadikan manusia sebagai sesaji adalah hal biasa. Di Mesir kuno, setiap tahunnya selalu dilaksanakan kontes kecantikan, dan yang terpilih akan ditenggelamkan di Sungai Nil sebagai persembahan kepada dewa. Di Mesopotamia (Irak) yang dijadikan sesaji adalah bayi. Di Aztek, yang dijadikan sesaji adalah para pemuka agama. Digantinya Ismail dengan seekor domba menandai lahirnya revolusi besar dalam sejarah peradaban manusia, yaitu dihapuskannya pengorbanan manusia. Manusia itu terlalu mahal untuk dikorbankan. Hikmahnya, kita harus menghormati manusia, jangan mengorbankan manusia, bahagiakan manusia, dan bantu mereka yang membutuhkan bantuan.
  4. Salah satu hikmah terpenting dari momentum Idul Adha yang dapat kita aplikasikan dalam kehidupan bangsa saat ini, yaitu semangat dan keikhlasan untuk berkorban. Semangat untuk berkorban dengan tanpa pamrih pada dasarnya akan menumbuhkan solidaritas sosial masyarakat. Apalagi saat ini kita menyaksikan betapa bangsa dan negara kita tengah dilanda oleh berbagai fenomena musibah dan bencana alam yang teramat dahsyat. Banjir, tanah longsor, gempa bumi, lumpur panas, dan kebakaran terjadi di mana-mana. Gelombang bencana ini telah memporak-porandakan berbagai sendi kehidupan masyarakat. Fasilitas-fasilitas kehidupan pun mengalami kerusakan yang teramat parah. Jalan-jalan banyak yang rusak, rumah-rumah banyak yang terendam, harta benda lainnya banyak tidak dapat berfungsi seperti sediakala, akibat tidak dapat diselamatkan. Bencana ini pun menimbulkan trauma psikologis bagi warga masyarakat. Masyarakat menjadi panik, gelisah, dan khawatir jika bencana itu datang lagi. Semangat berkurban harus tercermin dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Semangat berkurban terutama harus ditunjukkan oleh para pemimpin dan kaum elit negeri ini. Tidak hanya rakyat yang diminta untuk berkurban, tetapi para pemimpin harus memberikan contoh. Tidak berkhianat terhadap amanah jabatan yang diembannya merupakan salah satu contoh pengorbanan yang dilakukan. Karena pengkhianatan terhadap amanah, hanya akan membawa bangsa ini pada kehancuran. Seseorang yang mengkhianati amanahnya biasanya memiliki sifat rakus dan tamak. Watak rakus dan tamak ini akan menempatkan kepentingan dirinya sendiri di atas kepentingan orang lain. Segala macam cara akan dipergunakan untuk mendapatkan berbagai jabatan dan kedudukan yang dianggapnya akan memperkaya dan menguntungkan diri dan kelompoknya. Jabatan akan dipertahankannya walaupun secara etika dan moral sudah tidak layak disandangnya, karena banyak anggota masyarakat yang menolak kepemimpinannya.
  5. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dua manusia terbaik yang ada di bumi telah berhasil mengangkat nilai martabat manusia pada kedudukan yang sesungguhnya, penghambaan secara total kepada Sang Khalik. Ibrahim menyerahkan putranya untuk disembelih dihadapan Allah, sebuah penggambaran totalitas ketertundukan seorang manusia kepada Tuhannya. Melalui Nabi Ibrahim, manusia telah melihat sebuah nilai pengorbanan yang bersih dari nilai-nilai kesombongan, keangkuhan, dan kesemuanya hanya tertunduk patuh pada-Nya. Kerelaan Nabi Ismail untuk disembelih merupakan perwujudan cinta kasih yang sangat luar biasa kepada sang ayah atas nama Tuhan. Ketika pengorbanan diminta, tak ada perdebatan, tak ada keberatan, tak ada penolakan sedikitpun, inilah manusia yang mulia yang mampu membebaskan dirinya dari belenggu nafsu yang selalu mengajak untuk cinta dunia secara mutlak.
Demikianlah beberapa hikmah Idul Adha yang merupakan hasil renungan penulis, mudah-mudahan kita bisa selalu mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa penting yang kita lalui dalam hidup ini guna meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita kepada-Nya. Amiin.

Sabtu, 13 November 2010

Awal mulanya Sharinggan HataKe Kakasie. :D

Awal Mulanya Kakashi Mendapatkan Sharingan

10 tahun silam, pemerintahan Lima Negara Besar Shinobi dilanda kekacauan, dan pertempuran menyebabkan desa-desa mengambil posisi di sekitar perbatasan setiap negara. Perpanjangan perang mengurangi kekuatan negara api. Negara ini telah mengalami penurunan kekuatan militer secara drastis. Banyak sekali dari mereka yang gugur dan dibawa kembali ke desa Konoha.
Kemudian, perang ini disebut sebagai “Perang Besar Dunia Ninja Ketiga”

Ketika itu, Kakashi yang baru berumur 14 tahun menerima gelar sebagai Jounin.
Teman satu timnya, Rin memberikan hadiah kotak obat ninja medis. Dan gurunya, yang kita kenal sebagai Hokage Keempat memberikan kunai spesial. Sedangkan teman satu timnya yang lain, Obito, tak memberi apa-apa.

Obito adalah pribadi yang cengeng, tetapi selalu membanggakan darah uchiha yang dimilikinya. Selalu mengandaikan jika sharingan miliknya bangkit, ia akan menjadi kuat. Kakashi 14th adalah pribadi yang penyendiri dan pemuram. Obito menyebutnya tidak punya hati. Penyebabnya sendiri berasal karena insiden kematian ayahnya, yang mementingkan keselamatan temannya di atas segala-galanya, bahkan keberhasilan misi sekalipun. Akan tetapi teman dari ayahnya Kakashi yang diselamatkan dari sebuah misi malah mengkhianatinya dan balik menyalahkannya. Semua penduduk desa pun benci kepada Konoha White Fang (Konoha Taring Putih), karena jika seaandainya misi itu berhasil, maka semua penduduk Konoha akan diuntungkan dari misi ini.
Karena malu yang tidak tertanggung lagi, akhirnya Konoha White Fang bunuh diri.
Hubungan antara Obito dengan Kakashi pada awalnya sungguh tidak akur. Akan tetapi, situasi mulai berubah ketika Obito mengetahui keadaan Kakashi.

Kakashi bergerak sebagai pimpinan tim dengan 2 orang anggota yaitu, Rin dan Obito.
Dan guru mereka bergerak secara individual. Kesialan menimpa Rin, dan dijadikan sandera oleh pihak musuh. Tidak ingin mengikuti jejak ayahnya, Kakashi berniat untuk mengutamakan keberhasilan misi.
Pandangan Obito terhadap Kakashi yang mulai bersimpati tertampik oleh ucapan Kakashi.
Obito berkata pada Kakashi bahwa ia amat kagum pada ayahnya, Konoha White Fang.
Dan ia berkata lagi, para ninja yang melanggar peraturan adalah “sampah”, akan tetapi mereka yang tak peduli terhadap rekannya “lebih buruk daripada sampah”.

Kemudian Obito memutuskan untuk pergi menyelamatkan Rin sendiri. Penyusupan Obito diketahui pihak musuh dan ketika Obito nyaris terkena serangan, Kakashi datang melindunginya. Serangan itu menyebabkan luka yang fatal pada mata kirinya. Obito yang cengeng kontan meneteskan sebutir air mata. Kini ia mendapatkan sebuah tekad untuk membangun dirinya sebagai pribadi yang lebih tegar. Sebuah tekad yang membangkitkan kekuatan sharingannya.
Bangkitnya Sharingan Obito, menyertainya sebagai pahlawan seraya menguatkan tekad, “Aku akan melindungi sahabat-sahabatku!!!”

Kombinasi antara Kakashi dan Obito tidak bercelah, dan itu membuat mereka berhasil menyelamatkan Rin. Musuh pun tak tinggal diam. Gua tempat disanderanya Rin diruntuhkan. Kakashi terjatuh karena reruntuhan kecil dari gua mengenai mata kirinya.
Sesaat sebelum Kakashi tertimpa batu yang besar, sebuah tangan terulur dan menariknya.

Rin dan Kakashi selamat, akan tetapi tidak dengan Obito. Separuh tubuhnya hancur.
Sisi kanan tubuhnya tertimpa reruntuhan yang besar. Obito tak bisa lagi merasakan apa-apa. Kakashi menyalahkan dirinya sendiri. Tetapi Obito tak menginginkan itu. Obito hanya ingin, pengorbanannya tak sia-sia.

Sebagai permintaan terakhirnya, Obito menginginkan Kakashi untuk menerima sebuah hadiah yang tidak diberikannya pada waktu yang lalu. Hadiah atas keberhasilannya sebagai Jounin. Hanya terpikirkan untuk memberikan Kakashi sebelah bola mata kirinya yang masih utuh. Ia ingin, walaupun ia telah tiada, matanya dapat melihat ke masa depan bersama-sama Kakashi. Kakashi tak tega pada awalnya. Tetapi dengan demikian, Obito dapat hidup di dalam matanya, dan bahagia sebelum maut menjemputnya.
Kakashi dengan berat hati mengindahkan permintaan terakhir Obito.

Kakashi terpaksa meninggalkan Obito sebelum musuh menyerang. Kakashi mengalahkan musuh dengan mata pemberian Obito. Dengan mata kirinya yang terus mengalirkan air mata. Pertanda Obito yang cengeng menyertainya. Persahabatan yang amat singkat antara Obito dan Kakashi. Tampaknya hal itu merubah kepribadian Kakashi yang berhati besi. Obito memegang peran yang sangat penting, yang mengubah Kakashi yang berhati besi menjadi Kakashi yang kita kenal sekarang.

Perang Besar Dunia Ninja Ketiga, masa yang sangat panjang dan berakhir dengan mengorbankan banyak nyawa shinobi yang tak bernama. Pada waktu yang sama, mereka adalah pahlawan. Dan Legenda itu bersiap untuk diturunkan dari generasi ke generasi.
Perjuangan di Jembatan Kanabi… Hari itu, dua pahlawan yang membawa sharingan lahir bagi Konoha. Seorang dengan namanya yang terukir pada batu nisan… Dan yang seorang lagi kemudian dikenal sebagai “SHARINGAN KAKASHI”, yang dikenal sampai sejauh negara lain yang amat jauh sekalipun.

Obito, gugur sebagai pahlawan. Ia telah melindungi sahabat-sahabatnya.
Riwayat kepahlawanannya yang singkat dan berkorban demi sahabat mungkin telah cukup membuatnya bahagia.